Mengutip judul lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul Pasar Bisa Diciptakan kali ini saya akan membahas sebuah pasar tumpah yaitu Pasar Dayak PM Noor
Kalo mau nulis tentang pasar di Samarinda lumayan banyak pasar sebagai roda perekonomian suatu daerah, tapi seperti janji saya dulu (waktu itu), saya akan menuliskan yang berbeda di #30HariKotakuBercerita. Kali ini saya tidak akan menuliskan Pasar Pagi, Pasar Segiri, Pasar Subuh, Pasar Rahmat, Pasar Arum, Pasar Inpres, atau pasar lainnya.


Pasar Dayak, begitu saya dan beberapa orang yang tinggal di sekitar sini menyebutnya, Pasar Dayak terletak di jalan Pangeran Muhammad Noor (PM Noor) letaknya tidak jauh dari dari pasar resmi (Pasar Arum) di temindung. Dari namanya saja sudah pasti yang berjualan di Pasar Dayak mayoritas adalah orang (suku) dayak dan benar sekali, memang yang berjualan di Pasar Dayak adalah orang dayak.


Pasar Dayak sebenarnya adalah pasar tumpah atau biasa yang kita sebut pasar dadakan, awalnya dulu Pasar Dayak hanya sekitar 1 dan 2 orang yang berjualan di situ, lama kelamaan mulai bertambah. Yang dijual di Pasar Dayak juga beda dengan pasar umum seperti biasanya, Pasar Dayak menjual hasil pertanian dan perkebunan yang langsung dari penjualnya sendiri di kebunnya sana, yaitu di daerah Pampang.

Otomatis masih segar dong sayur mayurnya, gak cuma itu sih yang dijual di sana, ada juga hasil pertanian lainnya. Pasar Dayak hanya buka saat sore hari sekitar jam 2 sampai dengan jam 6 waktu Samarinda. Oh iya, Pasar Dayak juga menjual hasil kerajinan khas Kalimantan loh, dan juga ada daging babi yang memang dibuatkan tempat sendiri.

Pasar Dayak menjadi tempat favorite memang bagi orang sekitarnya yang males masuk ke pasar umum yang panas dan sumpek, di Pasar Dayak kamu bisa aja masih berada di atas motor atau di dalam mobil kamu, seperti pasar drive through gitu deh. Nah kalo mau main-main ke Pasar Dayak boleh deh nanti saya temanin karena cukup dekat dengan rumah saya. Hehehe

Okey, itu dia Pasar Dayak. Unik kan (iya aja yah) #piss

Advertisements