Selamat Hari Ibu, Kotaku Samarinda

 

Hai, bertemu lagi dengan saya. Apa kabar kalian? Semoga semua baik-baik saja, kembali saya akan menulis di blog ini. Masih tentang kota saya Samarinda, tapi akan sedikit berbeda dengan tulisan saya tentang Kota Samarinda sebelumnya, kali ini dalam rangka Hari Ibu, saya akan menuliskan sedikit banyak sisi lain dari Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur ini.

1482159218476.jpg
Monumen Pesut, Ikon Kota Samarinda

Ibu Kota, benar. Samarinda adalah Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur, jika kalian wahai pembaca budiman yang belum pernah ke Samarinda, di sini akan saya ceritakan sedikit tentang kota saya ini. Samarinda adalah kota yang berada di tengah Propinsi Kalimantan Timur, dan di Samarinda terdapat sungai yang terkenal dengan mamalia air tawarnya (pesut), yaitu Sungai Mahakam. Yap, Sungai Mahakam, jika kalian berkunjung ke Samarinda melalui jalan darat dari kota tetangga Balikpapan, kalaian akan disambut oleh keindahan Sungai Mahakam, saya menyebutnya indah karena Sungai Mahakam memang indah menurut saya, sungai yang memisahkan antara Samarinda kota dan Seberang Samarinda (Pantai Seberang atau PANSEB, red) begitu kami menyebutnya.

Sungai Mahakam adalah sungai yang tidak pernah berhenti beristirahat 24 jam, karena sungai ini adalah jalur lalu lintas kapal dan perahu (kapal kecil atau tambangan) yang lalu lalang setiap harinya, mulai dari kapal barang, kapal penumpang, hingga kapal penarik ponton batubara. Ada yang sedikit mencoret keindahan Sungai Mahakam dan sekaligus salah satu alasan saya menulis tentang kota saya ini dari kata batubara sebelumnya. Benar sekali batubara, Sungai Mahakam adalah sungai indah dengan segala aktifitasnya dan keindahan tersebut dikotori oleh lewatnya kapal penarik ponton batubara yang menggunung di atas air Sungai Mahakam. Mungkin bisa kalian bayangkan tumpukan batu menggunung berwarna hitam berada di tengah Sungai Mahakam, dan jangan heran dengan pemandangan tersebut karena pemandangan tersebut sudah ada sejak awal tahun 2000an. Pemandangan yang sudah biasa saya lihat, dan kadang terbesit sedikit pertanyaan dan bisa jadi pertanyaan kalian juga yang membaca “dari mana asal batubara itu?”.

1482159321974.jpg
Tempat distribusi batubara ke ponton 
1482159281457.jpg
Ponton pengangkut batubara yang melintasi Sungai Mahakam

Batubara itu berasal dari tambang yang hampir mengeliingi Kota Samarinda, walau sebenarnya ada beberapa tambang yang berada di luar Kota Samarinda. Salah satu asal batubara yang biasa saya lihat wara-wiri di atas Sungai Mahakam terdapat di salah satu daerah di Samarinda yang bernama Makroman, Makroman adalah desa hijau nan asri jika dilihat dari depan, tapi berbanding terbalik jika sudah masuk jauh kedalam.

1482159338506.jpg
Masukkan keterangan

Sebuah pemandangan tidak baik atau buruk yang ada di Kota Samarinda menurut saya, pemandangan yang bisa mengancam daerah sekitarnya hingga tampak seperti ingin membunuh. Inilah pemandangan daerah tambang yang ada di Makroman,salah satu daerah tambang dari banyak tambang yang ada di Samarinda. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa pemandangan batubara bisa mengancam daerah sekitar, seperti ancaman kepada Bapak Baharudin. Bapak Baharudin adalah petani yang sampai saat ini mempertahankan sawahnya dari pertambangan Batu Bara milik CV Arjuna.

1482159380832 (1).jpg
Bapak Baharudin, yang sampai sekarang masih mempretahankan lahan pertaniannya dari tambang

 

Datang pada tahun 2000 dan sempat merasakan Panen Raya bersama petani lainnya pada saat itu, Bapak Baharudin kini harus berjuang melawan dengan segala upaya untuk bisa terus bertahan dan kembali merasakan Panen Raya seperti dulu awal di datang ke Makroman.Untuk sekedar diketahui bahwa tambang batubara bisa merusak ekosistem sekitarnya, selain merusak hutan dan mengakibatkan hilangnya daerah resapan yang berakibat banjir, dan air yang berada di bekas daerah tambang juga beracun dan tidak layak untuk digunakan bertani ataupun untuk dikomsumsi. Selain CV Arjuna, masih banyak perusahaan tambang lainnya yang mengancam petani layaknya Bahar, dan bukan hanya di Makroman saja, di daerah lain di Kota Samarinda juga masih ada tambang yang lebih mengancam bahkan pernah menghilangkan nyawa seorang bocah

IMG_20161215_133951.jpg
Bekas lubang tambang yang ada di Makroman yang dikelola oleh CV Arjuna

 

Bocah tersebut bernama Muhammad Raihan Saputra, salah satu korban tenggelam dari 15 anak yang meninggal di lobang bekas galian tambang. Bocah polos kelahiran 2002 tewas pada tahun 2014 saat bermain bersama kawannya di area  lobang bekas galian tambang milik PT Graha Benua Etam di daerah Sempaja Samarinda Utara, ujar Rahmawati ibu Raihan. Saat ini  Rahmawati masih mencari keadilan atas tewasnya Raihan dan juga banyak anak lainnya yang tewas karena lubang tambang melalu petisi di Change.org. Petisi yang ditujukan untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Ibu Siti Nurbaya dan juga Walikota Samarinda Syaharie Jaang. Seperti yang dikutip dari Mongabay.co.id dalam petisi tersebut Rahmawati menulis betapa hancur hatinya saat mendapat kabar bahwa putra kesayangannya meninggal di kolam bekas lubang tambang yang dibiarkan terbuka selama tiga tahun, dan kado pahit yang dia terima saat peringatan Hari Ibu (22/12/2014)

IMG_20161215_170751 (1).jpg
Ibu Rahmawati

Hari Ibu, Seperti  Rahmawati Ibu Kota (Samarinda) juga hancur hatinya karena sampai saat ini sudah 15 anak yang meninggal di kolam bekas lubang tambang, entah apa yang dirasakan Ibu Kota (Samarinda) ini rasakan sekarang, dia merasakan ketidak adilan karena masih banyak tambang yang bisa saja merenggut nyawa anak-anak lainnya. Ya, inilah kotaku Samarinda, kota yang dikelilingi lubang tambang berbahaya. Dalam rangka Hari Ibu, mungkin begitu juga perasaan Ibu Kota Samarinda, sama dengan Ibu Rahmawati, yang mencari keadilan atas semua yang telah dilakukan perusahaan tambang batubara kepadanya. Selamat Hari Ibu, Kotaku Samarinda

Advertisements