​Kayuhan sepedanya terus berputar, tidak laju memang sepeda itu. Tepat di depan gang Kali Benawa sore itu dia berhenti sejenak, sambil menyeka keringatnya dan duduk terdiam sembari mengambil nafas panjang dan menghitung jumlah balon yang dia bawa.
Balon itu masih melayang dan terikat di bagian belakang sepedanya, masih terlihat banyak memang, tapi balon itu harus segera habis sebelum matahari tenggelam. Jika tidak, balon itu akan mengempis dan tidak bisa melayang lagi.
Dia kembali mengayuh sepedanya dan memasuki gang itu, sebuah harapan menanti di depan si paman. Semoga ada anak kecil melihatnya lewat dan merengek nangis untuk dibelikan balon itu oleh ibunya.
Penantian paman terjawab, seorang anak benar-benar melihatnya dan merengek untuk dibelikan balon itu. Satu, dua, tiga dan, seterusnya hingga hanya tersisa 2 balon masih terikat di sepedanya.
Si paman sedikit sumringah, akhirnya balon itu bisa terjual banyak dan mengurangi beban kayuhan sepedanya. Akhirnya paman bisa pulang dengan lega, bisa membawa cukup uang untuk keluarganya dan bisa sebagai tambahan modal untuk menjual balon lagi di esok hari.
Paman penjual balon, terima kasih sudah membuat si kecil senang

Advertisements