Iya, aku adalah orang baru jika ingin dianggap keren. Karena baru lepas dari yang namanya rokok sejak 2012, masih baru kan. Tulisan ini bukan untuk ajakan untuk berhenti merokok, karena berhenti merokok adalah hak setiap orang dan ini hanya sedikit cerita pengalaman aku saat awal-awal berjuang berhenti merokok.

Niat, adalah hal yang paling utama saat aku memutuskan berhenti merokok dan tentunya ada hal lain yang buat aku untuk berhenti merokok, pada saat itu (2012, lupa pastinya kapan) aku langsung mengisap rokok terakhirku. iya aku merokok bisa sampai 2 bungkus sehari dan setelah itu langsung menolak semua tawaran dari kawan untuk merokok. Walau ada rasa nggak nyaman saat menolaknya, tapi itu harus dijalani.

Setelah 2 minggu berhenti merokok, efek dari candu dan kebiasaan menenteng rokok terlihat. Badanku mulai lemah dan demam tinggi sering terjadi, mungkin dalam tubuh saat itu sedang beradaptasi tanpa adanya nikotin dan tar. Lalu sebulan kemudian mencoba periksa ke dokter untuk cek darah, dan saat itu dinyatakan tyfus oleh dokter. Selepas sehat kembali, aku mengubah kebiasaan menenteng rokok dengan memakan buah dan cemilan. Kata orang makan permen juga ampuh untuk mengubah kebiasaan merokok, alhamdulillah berat badanku mulai naik dari yang hanya 45 kg berubah menjadi 50 kg.

Tidak sampai di situ, efek dari berhenti merokok semakin menjadi. 5 bulan setelah berhenti kembali sakit demam tinggi dan kedokter lagi dan kali ini bukan typus, melainkan gejala TB (TBC) dan berat badan turun lagi sampai 40 kg, untuk seorang yang tinggi 170 cm berat itu cukup mengagetkan. Akhirnya aku harus ikut program penyembuhan selama 6 bulan yang di mana obatnya sangat banyak dan tidak boleh absen sehari pun selama 6 bulan itu. Ngeri, iya sangat ngeri karena di saat itu juga pertama kalinya aku harus dirawat di rumah sakit, walau cuma seminggu.

Mulai saat itulah semakin besar dan benar keputusanku untuk berhenti merokok, dan akhirnya sampai sekarang dari sejak pertama kali berhenti sampai sekarang, karena ada pengorbanan di setiap usaha.

Advertisements